Teknologi Kelautan Melalui Kerja Sama Bilateral RI

Teknologi Kelautan Melalui Kerja Sama Bilateral RI

Teknologi Kelautan Melalui Kerja Sama Bilateral RI – Korea, Selaku aplikasi dari akad pengaturan hal Pusat Riset serta Kegiatan Serupa Teknologi Maritim, diadakan pertemuan komisi bersama( Joint Commission Rapat) ke- 2 semenjak ditetapkan pada Bulan September 2018 yang kemudian, buat mangulas pengurusan, kegiatan dan isu- isu studi bersama.

Teknologi Kelautan Melalui Kerja Sama Bilateral RI

marinescienceandtechnology – Pada pertemuan itu diulas hal pengembangan badan dan penandatanganan MoU dengan Hyundai R&D Center serta kegiatan serupa studi.

Dilansir dari laman maritim.go, Pada tahun awal ini pula sudah dilaksanakan sebagian workshop mengenai operational oceanography, oceanopraphic satellite, ocean energi development dan marine debris management.

Baca juga : Perkembangan Inovasi dan Teknologi Pada Sektor Maritim Indonesia

Dalam usaha pengembangan kapasistas SDM, MTCRC sudah membagikan beasiswa pada 13 orang buat tingkatan S2 di ITB. Berikutnya, pada rentang waktu 2019- 2020 MTCRC hendak difokuskan pada Operational Objectives and Strategy Implementation 2020.

“ Poin penting yang sudah disetujui serta selaku cetak biru percontohan merupakan riset kelayakan buat pembangunan Kepulauan Natuna yang bebas dengan cara tenaga buat mensupport pengembangan pabrik perikanan serta ecotourism.

Pada aspek pengembangan SDM, hendak dilaksanakan Korea- Indonesia Marine Experts Supervision Program pula pengembangan kapasitas buat program ahli di Korea. Selaku Aplikasi dari Cetak biru ODA hendak dicoba pengembangan sarana serta operasional makmal MTCRC di Cirebon dengan logistik kapal survey buat perairan pantai, perlengkapan survey Multi Beam Echosounder serta Conductivity Temperature Depth,” ucap Delegasi Safri pada Jumat, 23- 08- 2019.

Delegasi Safri meningkatkan, komisi bersama kedua negeri meluluskan ketiga skedul MTCRC itu di atas, serta menuangkannya dalam The Summary Report of the 2nd Joint Commission on Marine Science and Technology yang ditandatangani oleh Pimpinan Deputi Dokter. Safri Burhanuddin serta Ms. Unwon Yoo.

Setelah itu, pertemuan tersebut dirangkaikan dengan melakukan kunjungan pada bertepatan pada 23 Agustus 2019 ke sarana Smart Aquaculture Complex, KIOST’ s Jeju Research Institute, Haengwon Pumped- Hydro Storage System, Offshore Wind Towers.

Smart Aquaculture Complex ialah sarana pengembangan ikan flounder memakai kolam ciptaan dengan memakai air laut yang dipompa dari dasar tanah( underground seawater) yang bermutu amat bagus dengan isi mineral yang lebih menang dibanding dengan air laut lazim.

Temperatur, isi zat asam serta salinitas air laut yang dipakai di dalam kolam ciptaan dikontrol dengan cara otomatis, serta air buangan dari kolam ini setelah itu dialirkan ke zona tanki pengendap buat mengendapkan kotoran serta sisa santapan ikan saat sebelum setelah itu dialirkan kembali ke laut.

“ Buangan air laut yang telah relatif bersih itu digunakan buat memutar turbin listrik serta bisa menciptakan tenaga sebesar 30 kW. Pakan buat santapan ikan pula terbuat di sarana aquaculture ini, dari ikan buruan nelayan lokal,” imbuh Delegasi Safri.

Berikutnya, Delegasi Safri menarangkan, kunjungan ke Hyundai energi solution renewable energi power plant complex, buat memandang Sistem PLTS Seosan sebesar 65 MWp di atas tanah reklamasi di pinggiran Telaga Bunam. Energi Storage System sebesar 130 MWh yang berbentuk serangkaian Battery System bernilai jaringan( rasio besar). Offshore Wind Parks, yang berbentuk serangkaian Sistem Generator Listrik Daya Bayu rasio besar yang dibentuk di bebas tepi laut oleh Doosan Heavy Industries. Selaku percontohan, terdapat 2 buah menara offshore foating turbines dengan kapasitas 5 MW di bebas tepi laut Pulau Jeju. Konsep pengembangannya hendak dilanjutkan dengan pembangunan PLTB Bebas Tepi laut Tamra dengan keseluruhan kapasitas 30 MW.

“ Teknologi- teknologi di atas rencananya hendak diaplikasikan dalam program pengembangan Energi Independent Island Natuna lewat kegiatan serupa MTCRC,” jelasnya.

KIOST’ s Jeju Research Institute( JRI) yang terkini ditetapkan pada tahun 2015 dengan studi prioritas hal pergantian hawa serta area, industrialisasi bioteknologi maritim, dan pengembangan program pembelajaran serta kegiatan serupa global. KIOST Jeju berupaya buat lebih tingkatkan energi saing Korea dalam bioindustri serta kemampuan perkembangan era depan korea lewat pembuatan sistem penciptaan serta pengerjaan makhluk bernyawa laut yang ramah area, serta studi pangkal bioenergy. Rencananya MTCRC Cirebon, ke depannya hendak dibesarkan semacam JRI yang dilengkapi dengan sarana makmal oseanografi buat diatur oleh ITB serta digunakan oleh mahasiswa maritim semua Indonesia.

Pada tahap akhir, deputi mendatangi Ramsar Ecotourism Village yang ialah salah satu Geosite dari Jeju Island UNESCO Geopark. Geosite Ramsar merupakan rancangan geopark yang mencampurkan peninggalan ilmu bumi berbentuk lahar dewasa jutaan tahun, keragaman biologi belukar serta burung endemik, serta adat tradisonal korea dalam membuat arang kuno.

Jeju Island UNESCO Garis besar Geopark merupakan salah satu UNESCO Garis besar Geopark terbaik bumi dengan sistem pengurusan yang bermutu. Lewat kegiatan serupa ini, diharapkan pula bisa memesatkan pendapatan sasaran dari Perpres no 9 tahun 2019 mengenai Pengembangan halaman alam( Geopark).

Ada pula, pertemuan ini dilaksanakan di kantor Departemen Samudera serta Perikanan( MOF) di Sejong, Korea pada bertepatan pada 22 Agustus 2019. Deputi Indonesia dipandu oleh Delegasi Aspek Ketua SDM, Iptek serta Adat Bahari Dokter. Safri Burhanuddin

Muncul selaku badan JC Indonesia Asdep Pemanfaatan Iptek Bahari Nani Hendiarti, dan delegasi dari Departemen Maritim serta Perikanan( KKP) serta Institut Teknologi Bandung( ITB). Deputi Korea dipandu oleh Mrs. Eunwon Yoo( Ocean Development Director), dan delegasi dari KIOST, Korea University serta Dokter. Hansan Park selaku co- director MTCRC.