Bagaimanakah Masa Depan Ekonomi Biru Dan Ilmu Kelautan

Bagaimanakah Masa Depan Ekonomi Biru Dan Ilmu Kelautan – Bagaimana ilmu pengetahuan akan menjawab tantangan kelautan masa depan? Bagaimana setiap disiplin ilmu akan berkontribusi pada eksplorasi laut di masa depan? Sebenarnya dua pertanyaan itu terikat oleh satu pertanyaan ini : “Mengapa lautan kita begitu penting bagi kita?” Pertanyaan itu mengarah pada pertanyaan lain seperti apakah kesehatan kita, kesehatan lingkungan, kekuatan ekonomi kita dan memang, masa depan kita, bergantung pada laut?

Pada akhirnya semua orang akan meletakan jari telunjuk mereka padaa kaum ilmuwan. Lalu bagaimana ilmu kelautan dapat membantu kita secara kolektif mengembangkan industri berbasis kelautan dengan pada saat yang sama melindungi ekosistem laut yang unik sehingga kelestariannya bisa dijaga untuk kepentingan di masa datang.

Oleh karenanya Anda sudah aman menyebut semua ini nonsens.

Dalam banyak hal, lautan yang mengelilingi kita, masih dipandang sebagai “semua hal”, karena luasmua, karena dianggap gigantis, karena apapun yang di laut tidak ada satu manusia pun yang mampu mengatasinya, maka lautan di pandang sebagai tempat sampah rakasasa. Tempat di mana orang-orang miskin bisa berpindah negara lewat kapal penumpang dan rakit, allih-alih naik pesawat terbang yang bonafid. Bahkan pasar pesiar pun disamakan dengan naik kano melintasi danau wisata untuk berllibur. Semua orang berharap pada lautan tapi semua orang meremehkannya, oleh karenanya ahli laut ahli dalam mengorganisasi manusia untuk kepentingan laut, tidak bisa menjadi pemimpin publik, karena itulah sektor di mana setiap orang malas memperjuangkannya.

Padahal mayoritas perdagangan yang membawa pundi uang di brankas para konglomerat perjalanannya dilakukan melalui laut, belum lagi sumber daya minyak dan gas lepas pantai yang luas menghasilkan pendapatan ekspor vital dan menawarkan sumber energi jangka panjang yang lebih bersih daripada batubara dan industri.

Tetap saja orang menganggap bahwa ilmu tentang kelautan tidak bisa dibentuk dalam suatu persilangan dengan etika dan moral, yang melahirkan sanksi hukum. Tidak ada hukum laut yang mengurusi sungai-sungai sebagai got raksasa pembuangan sampah rumah tangga oleh warga Indonesia. Jika benar hukum semacam itu ada, artinya tidak pernah terdengar atau berjalan daam check and Balance. Kecuali ada uangnya.

Uangnya pun termasuk jumlah yang serius. Industri kelautan misalnya menyumbang sekitar A $ 42 miliar untuk perekonomian Australia pada tahun 2010. Ini diproyeksikan akan tumbuh hingga sekitar A $ 100 miliar pada tahun 2025 dengan perluasan industri dan pengembangan peluang baru di bidang-bidang seperti energi terbarukan saat in. Sebagai. Untuk negara yang tidak dikenal sebagai negara kepualauan, ambisi Australia kepada komersialisme lautan mewakili ambisi semua negara lainnta.

Selain nilai ekonomi dan estetika, lautan juga menyediakan serangkaian “jasa ekosistem” yang penting – yang paling penting dalam peran lautan dalam sistem iklim global. Sejak akhir abad ke-18, sekitar 30% adalah ikut menyerap emisi karbondioksida yang diinduksi manusia telah diambil oleh lautan sementara selama 50 tahun terakhir, lautan juga telah menyerap sekitar 90% dari panas tambahan yang dihasilkan melalui dampak dari rumah kaca.

Marine Nation 2025 menjabarkan enam, “tantangan besar” kelautan, mencakup

  1. Kedaulatan, keamanan, bahaya alam.
  2. Keamanan energi
  3. Ketahanan pangan
  4. konservasi keanekaragaman hayati dan kesehatan ekosistem
  5. Iklim, berurusan dengan perubahan iklim
  6. Alokasi sumber daya yang optimal

Dengan demikian, upaya yang berdedikasi dan terkoordinasi di komunitas ilmu kelautan nasional diperlukan.