Tidak Ada Ilmu dan Pengetahuan Yang Mampu Jelaskan Luasnya Isi Laut

Tidak Ada Ilmu dan Pengetahuan Yang Mampu Jelaskan Luasnya Isi Laut – Saat kapal kapal melanjutkan pencarian Malaysia Airlines MH370 yang hilang di kedalaman Samudra Hindia beberapa tahun lalu, kita sering mendengar bahwa sejatinya “95% lautan belum pernah dijelajahi” atau bahwa kita lebih banyak tahu permukaan Bulan atau Mars daripada permukaan laut. Tetapi benarkah pernyataan itu? Lalu apa yang sebenarnya kita maksud dengan “Dijelajahi”?

Sejatinya, seluruh dasar lautan sekarang telah dipetakan dalam resolusi maksimum sekitar 5 km, yang berarti kita dapat melihat sebagian besar fitur lebih dari 5 km dalam peta itu. Itulah resolusi peta global baru dasar laut yang diterbitkan baru-baru ini oleh David Sandwell dari Scripps Institute of Oceanography di San Diego dan rekannya, yang menggunakan beberapa trik bagus dengan satelit untuk memperkirakan lanskap dasar laut dan bahkan mengungkap beberapa fitur Bumi, misalkan kerak yang mengintai di bawah sedimen dasar laut.

Cara ini tidak seperti memetakan daratan, ada bedanya, tidak sepert daratan, kita tidak bisa mengukur lanskap dasar laut langsung dari satelit menggunakan radar, karena air laut menghalangi gelombang radio. Tetapi satelit dapat menggunakan radar untuk mengukur ketinggian permukaan laut dengan sangat akurat. Dan jika ada pengukuran yang cukup untuk mengurangi efek gelombang dan pasang surut, satelit bahkan bisa mengukur benjolan dan kemiringan di permukaan laut yang dihasilkan dari lanskap dasar dasar laut.

Di mana ada gunung bawah laut yang besar atau punggungan, misalnya, peningkatan gravitasi lokal kecil yang dihasilkan dari massanya menarik air laut ke dalam sedikit gundukan di atasnya. Jika ada parit laut, gravitasi lokal yang lebih lemah menghasilkan penurunan komparatif di permukaan laut. Membaca benjolan dan kemiringan di permukaan laut adalah prestasi luar biasa dari pengukuran presisi, yang melibatkan laser untuk melacak lintasan satelit pengukur dan tambahan sedikit perhitungan matematis untuk memproses data.

Peta baru menggunakan data dari satelit Cryosat-2 dan Jason-1 yang menunjukkan fitur yang tidak terlihat di peta sebelumnya, yang menggunakan data dari satelit yang lebih tua. Peta global dasar lautan sebelumnya, dibuat dengan menggunakan teknik yang sama dan diterbitkan pada tahun 1997, memiliki resolusi sekitar 20 km.

Saat ini, iptek telah berupaya memetakan lautan dengan resolusi lebih dekat lagi, sekitar 5 km. Dari situ, kita bisa melihat fitur-fitur utama dari bentang alamnya yang tersembunyi, seperti punggungan di tengah samudera dan parit samudera, dalam hal itu, dasar samudra tentu bukan “95% belum dijelajahi”. Tetapi peta global dari dasar samudra itu diakui kurang detail daripada peta Mars, Bulan, atau Venus, karena tudungan air laut pada planet.

Pesawat ruang angkasa NASA Magellan memetakan 98% permukaan Venus dengan resolusi sekitar 100 meter. Di mana seluruh permukaan Mars juga telah dipetakan pada resolusi itu dan lebih dari 60% dari Planet Merah kini telah dipetakan pada resolusi sekitar 20m. Sementara itu, selenografer telah memetakan semua permukaan bulan pada resolusi sekitar 100 meter dan sekarang bahkan pada resolusi tujuh meter.

Untuk memetakan dasar laut lebih rinci, para ahli harus menggunakan sonar, dan bukan satelit. Sistem sonar modern di atas kapal dapat memetakan dasar samudra hingga resolusi sekitar 100 meter melintasi jalur sempit di bawah kapal. Peta-peta lebih rinci itu sekarang mencakup sekitar 10% -15% dari lautan, kira-kira seukuran Afrika, masih kuranglah.